jump to navigation

Kunjungan UPY ke SLB Negeri 1 Bantul April 29, 2012

Posted by bugurusiti in Pendidikan, UPY.
Tags: , ,
trackback

Pada hari Kamis, tanggal 19 April 2012 kami mahasiswa PGSD Universitas PGRI Yogyakarta semester 6 mengadakan kunjungan ke SLB N 1 Bantul. Sebenarnya ini bagi saya ini bukan merupakan kunjungan untuk yang pertama kalinya karena pada semester 4 saya sudah mengambil mata kuliah ABK yang diampu juga oleh Bapak Drs. Sukadari, S.E., S.H., M.M  dan melakukan kunjungan bersama kakak-kakak tingkat. Ada banyak hal menarik dan sangat bermanfaat bagi saya selaku pribadi maupun selaku guru SD yang saya dapatkan dalam kunjungan ini. Hal-hal yang saya dapatkan yang mengundang simpatik dan ketertarikan saya ketika berada di SLB N 1 Bantul pada waktu observasi pada tanggal 19 April 2012 sebagai berikut:

Dengan segala keterbatasan anak ini tetap berusaha, tetap ceria dan tetap percaya diri. Pada kunjungan kali ini dia sedang belajar matematika dan bahasa. Ternyata dia bisa mengikuti pelajaran seperti di SD umum walaupun agak lambat karena keterbatasan yang dimilikinya. Waktu kunjungan tahun lalu saya melihat dia juga jago dalam melukis walaupun melukisnya dengan kaki. Betapa bersyukurnya kita yang telah diberikan nikmat begitu banyak. Saya juga sangat kagum dengan gurunya yang sabar, tlaten dan kreatif mengajar anak-anak di sini sehingga mereka dapat mengikuti pelajaran dengan segala keterbatasan yang dimiliki anak berkebutuhan khusus ini.

Dengan sabar dan kasih sayang Ibu Guru ini mengajari muridnya menulis huruf satu persatu. Masing-masing anak walaupun dalam satu kelas akan tetap mendapatkan pelayanan individu sesuai keadaan anak tersebut. Mengajar dengan berpusat pada peserta didik sangat diterapkan di sekolah ini.

Yang mengundang ketertarikan saya adalah anak yang berada di kursi roda ini. Ini merupakan kelas golongan tuna daksa. Anak ini belum bisa menulis/memegang pensil, belum bisa berbicara dan belum bisa diajak komunikasi. Saya tanyakan kepada Bu Guru di kelas ini mengapa anak ini tergolong tuna daksa beliau bilang ini merupakan anak baru dan beliau juga mengatakan kalau sebetulnya anak ini seharusnya tidak berada di kelas tuna daksa, tetapi menurut hasil test anak ini tergolong tuna daksa. Saya jadi penasaran bagaimana cara test atau macam tes yang dilakukan untuk mengetahui termasuk golongan yang mana seorang anak ABK tersebut.

Dapat kita lihat bahwa dalam satu kelas terdiri dari anak yang berbeda umurnya, ada yang besar dan ada yang kecil. Ini tidak seperti pada sekolah reguler yang biasanya dalam satu kelas umurnya setara, kecuali beda satu atau dua tahun karena tidak naik kelas. Tetapi di SLB ini perbedaan umur tidak diperhatikan, mereka belajar sesuai kemampuan dan keadaan yang ada pada diri mereka. Sempat saya tanyakan juga kalau masuk ke SLB ini tidak dibatasi oleh umur dan untuk kelas juga menyesuaikan kondisi siswa tersebut.

Di SLB ini tetap menggunakan buku-buku seperti di sekolah umum. Akan tetapi dalam penggunaan, buku ini disesuaikan dengan kondisi anak. Jika anak mampu mengikutinya maka kelasnya sama dengan di sekolah umum. Akan tetapi jika belum bisa mengikutinya maka menggunakan buku adalah buku yang berada di kelas bawahnya misalnya anak kelas IV tetapi karena kurang bisa mengikuti maka walaupun kelas IV, buku yang digunakan adalah buku kelas III. Dapat kita bayangkan betapa sabarnya seorang guru di SLB ini.

Di ruang kelas VI di SLB N 1 Bantul. Yang mengundang ketertarikan saya sebagai guru kelas VI di SD reguler adalah bahwa di sini kurikulum untuk mata pelajaran matematika tetap ada materi mengurutkan pecahan. Ini dapat kita lihat di papan tulis yang dituliskan soal mengurutkan pecahan. Tetapi di SLB ini memang masih sangat sederhana pecahannya. Jika di SLB ini pecahannya yang harus diurutkan masih berupa pecahan biasa semua tetapi di SD umum atau reguler sudah berupa pecahan campuran yang terdiri dari pecahan biasa, pecahan campuran, pecahan desimal dan persen. Saya sebagai pribadi dan sebagai seorang guru sangat memaklumi dan saya bangga dan salut dengan anak-anak di SLB N 1 Bantul ini.

Yang mengundang ketertarikan saya di sini adalah bahwa di SLB ini diperlukan berbagai alat peraga. Sebagai contoh di ruangan golongan tuna netra. Bapak ini sedang memberi penjelasan kepada kami bahwa untuk buku tuna netra dari buku umum di tulis ke buku lain dengan ukuran huruf yang lebih besar, sangat besar dan ke huruf braille. Ukuran huruf yang lebih besar untuk anak yang tuna netra tidak total dan huruf braille untuk anak yang tuna netra total.

Saya lihat di sini orang tua siswa di TK SLB N 1 Bantul yang sedang menyuapi anaknya. Terlihat di luar orang tua ini cantik-cantik dan ganteng-ganteng sehat walafiat. Saya sangat trenyuh betapa sabarnya mereka diberi amanat oleh Allah yang mungkin bagi mereka tidak menginginkan punya anak ABK. Timbul rasa syukur yang amat dalam dalam diri saya dikarunia dua anak putra dan putri yang sehat. Saya berdoa semoga para orang tua dan juga anak-anak di SLB N 1 Bantul diberikan ketabahan, semangat dan selalu diberikan kebahagian oleh Allah.

Saya sangat tertarik dengan stiker “aja dumeh” ini. Baik di kunjungan tahun lalu maupun kunjungan tahun ini saya sangat tertarik. Ini sangat menyentuh hati saya untuk selalu tidak sombong dan mengingat bahwa kita harus bersyukur karena masih banyak yang lebih menderita dan lebih kekurangan daripada kita.

Seperti di sekolah umum atau sekolah reguler di SLB ini juga terdapat tugas piket guru serta tata tertib baik siswa maupun murid. Saya sangat tertarik bahwa siswa SLB di sini walaupun terlambat juga terlebih dahulu sebelum memulai pelajaran sesuai tata tertib yang ada.

Di ruang ketrampilan, ketertarikan saya di sini bahwa anak ABK juga anak yang pandai bersosialisasi dengan teman. Mereka mampu akrab, bekerjasama dan saling bantu membantu.

Yang menjadi ketertarikan saya kali ini, bahwa anak yang tergolong ABK ini sangat sopan dan sangat mengerti sopan santun serta sangat terampil melebihi anak yang tidak ABK.

Di samping hal-hal di atas juga anak ABK yang sangat canggih menggunakan komputer yang tidak sempat saya ambil gambarnya berikut foto-foto hasil karya kerajinan di sanggar Kaliba SLB N 1 Bantul yang sangat bagus dan menarik serta peralatan yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan anak ABK tersebut sebagai berikut:

Artinya bahwa “ Yang kurang belum tentu kurang”

Dari observasi ke SLB 1 Bantul ini saya dapat mengerti dan paham bahwa sekolah untuk anak berkebutuhan khusus atau dapat disebut juga Sekolah Luar Biasa adalah layanan sekolah dan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yang mana Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sendiri merupakan anak yang mempunyai sesuatu yang luar biasa yang secara signifikan membedakannya dengan anak-anak pada umumnya baik fisik, mental maupun intelektual. Anak-anak itu sama seperti manusia pada umumnya, butuh perhatian, kasih sayang dan rasa aman. Mungkin di sekolah itu mereka bisa mendapatkan itu dari guru-guru mereka. Tapi setelah mereka tidak lagi sekolah belum tentu mereka bisa kembali merasakan kenyamanan yang sama di lingkungan rumahnya, kalau orang tua, keluarga dan para tetangganya tidak tahu bagaimana harus memperlakukan mereka. Inilah mengapa perlunya pendidikan inklusi agar anak ABK dapat bergaul bersama anak normal biasa karena mereka juga akan hidup di lingkungan masyarakat.

Pengalaman itu membuatku semakin bersyukur tentang arti hidup ini. Aku salut dengan mereka. Meskipun mereka anak berkebutuhan khusus dan memiliki banyak kekurangan, mereka adalah anak yang hebat. Mereka punya semangat dan daya juang yang sangat tinggi untuk maju. Mereka ingin berkembang dan pantang menyerah mewujudkan cita-citanya. Apakah kita yang terlahir normal dan tidak berkebutuhan khusus justru tidak bersemangat? Apa kita tidak malu melihat mereka yang kurang pun bisa seperti itu? Kita tanamkan pada anak didik kita bahwa kita tidak boleh menyerah dalam menjalani hidup yang penuh tantangan ini. Mereka pun bisa, kenapa kita tidak?

Keluarbiasaan yang dimiliki anak tersebut dapat merupakan sesuatu yang negatif maupun yang positif, dalam artian anak mempunyai keterbatasan atau bahkan memiliki kelebihan melebihi anak normal pada umumnya, dengan demikian keluarbiasaan itu dapat berada diatas rata-rata anak pada umumnya, dapat pula berada di bawah rata-rata anak pada umumnya. Oleh sebab itu kita sebagai seorang guru SD khususnya wajib mengetahui dan dapat mengatasi anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Anak Berkebutuhan Khusus merupakan anak yang mempunyai sesuatu yang luar biasa yang secara signifikan membedakannya dengan anak-anak pada umumnya baik fisik,mental maupaun intelektual.

Dalam memberikan kasih sayang, perhatian serta pendidikan kita sebagai calon guru harus mempunyai sifat yang sabar, tekun, telaten dan penuh kasih sayang khususnya pada siswa yang berkebutuhan khusus, agar peserta didik kita nanti mampu menerima pendidikan yang kita sampaikan dengan baik.

Comments»

1. bugurusiti - May 10, 2012

🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: