jump to navigation

PUISI-PUISI September 23, 2011

Posted by bugurusiti in HOME, UPY.
Tags: , ,
trackback

PUISI-PUISI 

DERAI-DERAI KESABARAN                                                                                                                                                    

Hidup sementara

Begitu banyak perasaan

Pekerjaan bak laut menderai

 

Aku ini makhluk lemah

Pasrah pada penentuku

Tanpa bisa aku bergeser

Segala garis ku terima

Walau perih kadang

 

Puncak kucari ilmu tlah kudekap

Ingat janji tlah terucap

Cintaku tlah menanti

Tidak hanya 7-8 tahun

Pelaminanku akhirnya kududuki

 

Angin semilir

Hawa sejuk

Ingin kunikmati lebih lama

Namun apa

Ternyata….

Perjuangan hidup

Sangat hebat lagi

Derai-derai kesabaran

Masih tetap ada di sini

 

 


PEJUANG SESAL

Di ujung derita aku melihatmu

Tamparanku tersembunyi di hati

Kubuang jauh dirimu

Semakin jauh dirimu makin bobrok hidupku

Apa yang kumau jauh di otakmu

Itulah sumber sesal

 

Sesalku ada dalam detik nafasku

Lariku ada

Tuk terjang dan hapus

 

Kau aku benci

Kau aku dekap

Tuk mengiris habis

Sesal si pejuang

 

 


TERIMA KASIH

Lelah sudah hari-harimu

Jatuh bangun pikiran dan badanmu

Kadang hatimu pecah kena duri dalam jalan

Kadang dendam juga menusuk

Menambah perih…

Hingga hati semakin lebur

Namun sinar datang

Ada dua sosok kecil kita

Ada dalam detik nafasku

Mereka persembahkan cemerlang di antara gelap

Terima kasih ku ucapkan

Pada tercintaku

 

 

 

 

                  

MERAHNYA MATA INI UNTUKNYA

Gelap ini

Tak akan aku biarkan

Mata terlelap percuma

Malam ini, gelap ini kucari sescercah jalan

Tuk anak-anakku yang menanti

Kuintip, kulihat dan kubelai

Mata mereka terlelap

Tentram tersirat

Jauh dari siang yang penuh ribut

Ingatanku tajam

Aku harus pergi

Mereka butuh jatah

Apa yang mesti mereka terima

Malam ini demi rejeki anakku

Aku rela

Selalu…mataku merah…

Saat kokok ayam jago terdengar

 

 

 

 


JAMAN KORUPSI, KOLUSI

Pejabat semakin tertawa

Jelata semakin terinjak

Apalagi si tua gelandangan

Sesuap nasipun sulit ke mulutnya

 

Yang tertawa semakin sibuk

Sibuk menginjak-injak rakyat

 

Kami yang terinjak dan pedih

Hanya bisa merasakan sedih

Mulut meringis….

Marah..lapar..benci..

Uang yang kau telan

Milik yang kau injak

Milik anak-anak yang menelan ludah karena ulahmu.

 

Korupsi, kolusi

Jadiakan bangsa makin miskin

Korupsi, kolusi

Derita lebih menancap

daripada darah perang

Emosi, lapar, tawur merajalela

Dunia makin panas

Nafas terbakar nafas ada

Nafas sejuk nafas kapan

Jaman korupsi enyahlah


kami yang terinjak

Menantikan kepergianmu.

 

 


KAU YANG TERBUANG

Perih kau yang buat

Sakit kau yang bikin

Kacau selalu kau pikirkan

Kau ini siapa?

 

Dalam perih…ibu bapakmu

Kau masih bisa tertawa

dan bertingkah gila

Gila memang kau

Kau ke mana

Kau mau tak ada

siapa menangis

siapa peduli

Kau…kau..yang terbuang

Aku inginkan kau tak kembali

 


SEPI…CINTAKU JAUH DI GUNUNG

Bulan menyinari gelap

Remang suasana sungguh terasa

Di balik tirai malam

Kutunggu

Dering telpon dalam genggam

Tak juga muncul

Tak juga hidung kau

Tetap sepi

 

Kutendang sepi

Sepi..

 

Ranjang mungil

terlelap aku di sana

hingga pagi menjelang

Kusadari…

Cintaku jauh di gunung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: