jump to navigation

Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara September 22, 2011

Posted by bugurusiti in SD 2 Pedes.
Tags: , , ,
trackback

MATERI AJAR

Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan ( PKn )
Kelas/Semester : VIA/1
Standar Kompetensi : 1. Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara

Kompetensi Dasar 1.1. Mendiskripsikan nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara

BPUPKI dibentuk pada tanggal 1 Maret 1945 yang diketuai oleh Rajiman Widyadiningrat.
Tujuan BPUPKI ddibentuk yaitu untuk menyelidiki dan mempelajari hal-hal penting tentang pembentukan/persiapan Indonesia merdeka.
Sidang BPUPKI yang pertama tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945 membahas tentang perumusan dasar negara.

Tiga tokoh yang mengemukakan pendapatnya mengenai dasar negara Indonesia merdeka dalam sidang BPUPKI yaitu Ir. Soekarno, Muhammad Yamin dan Mr. Supomo. Ketiganya mengusulkan hal yang pada intinya sama, yaitu agar Indonesia merdeka dibangun atas lima sila yang isinya hampir sama, tetapi dengan rumusan yang berbeda-beda.

Tanggal 29 Mei 1945 dalam sidang BPUPKI Muhammad Yamin mengusulkan lima asas dan dasar negara kebangsaan Republik Indonesia sebagai berikut::
1) Perikebangsaan
2) Perikemanusiaan
3) Periketuhanan
4) Perikerakyatan
5) Kesejahteraan rakyat/keadilan sosial

Tanggal 31 Mei 1945 dalam sidang BPUPKI Mr. Supomo mengemukakan lima dasar negara Indonesia merdeka seperti berikut:
1) Persatuan
2) Kekeluargaan
3) Keseimbangan lahir dan batin
4) Musyawarah

Tanggal 1 Juni 1945, dalam sidang BPUPKI Ir. Soekarno mengajukan secara lisan usulan lima asas sebagai dasar negara Indonesia yang akan dibentuk, yaitu:
1) Kebangsaan Indonesia
2) Internasionalisme atau perikemanusiaan
3) Mufakat atau demokrasi
4) Kesejahteraan atau keadilan sosial
5) Ketuhanan Yang Maha Esa

Tanggal 1 Juni 1945 dikenal sebagai hari lahirnya Pancasila.

Ir Soekarno mengajukan usul agar dasar negara tersebut diberi nama “Pancasila”.

Pada tanggal 22 Juni 1945, BPUPKI membentuk Panitia Sembilan.

Tugas Panitia Sembilan adalah memberikan usul-usul baik lisan maupun tulisan serta membahas dan merumuskan dasar negara Indonesia merdeka.

Panitia Sembilan menghasilkan Piagam Jakarta (Jakarta Charter) yang berisikan tujuan dan maksud pendirian negara Indonesia merdeka.

Rumusan dasar negara berdasarkan Piagam Jakarta adalah sebagai berikut:
Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.
Kemanusiaan yang adil dan beradab
Persatuan Indonesia
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Panitia Sembilan beranggotakan:
a. Ir. Soekarno (ketua)
b. Mohammad Hatta (wakil ketua)
c. K.H. Wachid Hasyim
d. K.H. Agus Salim
e. Achmad Subarjo
f. Abikusno Cokrosuyoso
g. A.A. Maramis
h. Abdul Kahar Mudzakir
i. Muhammad Yamin
Jembatan Keledai: NOTA SYIMLIMJO SO MISKIRMIN

Pada tanggal 7 Agustus 1945 panglima bala tentara Jepang di Asia Tenggara yang bermarkas besar di Dalat, Saigon mengumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), sebagai pengganti Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Tugas PPKI adalah mempercepat segala usaha yang berhubungan dengan persiapan terakhir guna membentuk pemerintahan Republik Indonesia.

Anggota PPKI terdiri atas Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, B.P.H. Purboyo, Dr. Radjiman Wediodiningrat, Sutarjo Kartohadikusumo, Andi Pangerang, Mr.I.G.K. Puja, dr. Mohammad Amir, Otto Iskandardinata, R. Panji Suroso, P.B.K.A. Suryohamijoyo, Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Abdul Abas, Dr. J. Latuharhary, A.A. Hamidhan, Abdul Kadir, Mr. Supomo, K.H. Wachid Hasyim, Dr. Teuku Mohammad Hassan, Dr. G.S.J.J Ratulangi, Drs. Cawan Bing. Selain itu, Achmad Subarjo diangkat sebagai penasihat khusus panitia itu.

Tanggal 18 Agustus 1945 dalam sidang PPKI, seorang opsir Angkatan Laut Jepang (Ratulangi) minta kepada Hatta supaya Piagam Jakarta dicoret dari pembukaan UUD 1945, karena kalau tidak, kemungkinan golongan Kristen dan Katolik di Indonesia Timur akan berdiri di luar republik. Mereka setuju menghapuskan ketujuh kata dalam Piagam Jakarta (dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya).

Kompetensi Dasar 1.2. Menceritakan secara singkat nilai kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara.

Dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara terdapat nilai-nilai juang dan sebagai warga negara yang baik kita harus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu antara lain:
a. Mementingkan kepentingan umum (bangsa) daripada kepentingan pribadi.
b. Memperjuangkan dan menegakkan hak asasi manusia.
c. Rasa cinta tanah air.
d. Persatuan dan kesatuan.

Sidang BPUPKI menghasilkan 3 putusan penting, yaitu:
1. Rancangan pembukaan atau mukadimah hukum dasar.
2. Rancangan hukum dasar negara.
3. Pernyataan kemerdekaan Indonesia.

Nilai-nilai juang dan kebersamaan 1945 antara lain:
1. Semua nilai yang terdapat dalam setiap sila dari Pancasila.
2. Semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Semua nilai yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945, baik pembukaan, batang tubuh, maupun penjelasannya, nilai-nilai yang lahir dan berkembang dalam perjuangan bangsa Indonesia, yaitu:
a. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Jiwa dan semangat merdeka.
c. Nasionalisme.
d. Patriotisme.
e. Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka.
f. Pantang mundur dan tidak kenal menyerah.
g. Persatuan dan kesatuan.
h. Anti penjajah.
i. Percaya kepada diri sendiri atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri.
j. Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya.
k. Idealisme kejuangan yang tinggi.
l. Berani dan rela berkorban untuk tanah air, bangsa, dan negara.
m. Kepahlawanan.
n. Kesetiakawanan, senasib sepenanggungan, dan kebersamaan.
o. Disiplin yang tinggi.
p. Ulet dan tabah menghad api segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.

Kompetensi Dasar 1.3. Meneladani nila-nilai juang para tokoh yang berperan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam kehidupan seharí-hari

Ir. Soekarno yang lebih dikenal dengan panggilan Bung Karno, terkenal sebagai orator yang ulung dimana pidato-pidatonya mampu membangkitkan semangat rakyat.
Sikap yang perlu kita teladani dari semangat Ir. Soekarno antara lain tidak memaksakan kehendak dalam menyelesaikan masalah dan selalu mengutamakan musyawarah untuk mufakat.
Supomo lahir di Sukoharjo, Surakarta pada tanggal 22 Januari 1903 dan meninggal dunia di Jakarta tanggal 12 September 1958 dan dimakamkan di Solo.
Rasa cinta tanah air Indonesia harus kita teladani dengan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebagai contoh sebagai berikut:
 Ikut serta dalam perayaan hari kemerdekaan RI baik di sekolah maupun di masyarakat sekitarmu.
 Ikut serta dalam parade pakaian adat,
 Mengikuti upacara bendera di sekolah dengan khidmat,
 Ikut lomba baca puisi tentang keindahan alam Indonesia atau yang lainnya.
Nilai-nilai juang dalam perumusan Pancasila yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
1. Persatuan dan Kesatuan
2. Cinta Tanah Air
3. Mengutamakan Kepentingan Umum
4. Rela Berkorban
5. Menghargai Orang Lain
Contoh perilaku yang menunjukkan semangat persatuan dan kesatuan antara lain:
a. Gotong royong membersihkan lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.
b. Menyelesaikan masalah dengan kekeluargaan tidak dengan kekerasan.
c. Mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan diri sendiri.

Sikap cinta tanah air yang dapat kamu terapkan antara lain:
a. Memakai barang-barang buatan bangsa Indonesia sendiri.
b. Berpartisipasi dalam pertunjukan tarian Nusantara.
c. Ikut serta parade pakaian adat.
d.Lebih mengutamakan kepentingan negara daripada kepen-tingan diri sendiri atau golongan.

Nilai-nilai kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila yang patut kita teladani adalah adanya semangat kekeluargaan di dalam perumusan Pancasila, menghargai pendapat orang lain, menerima keputusan bersama, dan melaksanakan hasil keputusan bersama.

Contoh menghargai orang lain dalam kehidupan sehari-hari:
a. Tidak membeda-bedakan teman yang berbeda suku bangsa, agama atau golongan.
b. Mau mendengar dan menerima pendapat orang lain dalam suatu rapat meskipun pendapatnya berbeda dengan pendapat kita.
c. Berbicara sopan dengan siapa pun tanpa terkecuali.

About these ads

Comments»

1. Sudiman - March 16, 2012

Terima kasih Bu Guru, mudah-mudahan ilmu yang Ibu berikan melalui blog ini bermanfaat bagi kami siswa siswi SDN 2 Sidoasri Kec. Candipuro, Lampung Selatan.

bugurusiti - March 16, 2012

Sama-sama. Salam buat siswa siswi SD Sidoasri

2. Ignatius Agus - July 18, 2013

trima kasih sumber belajar yang telah Ibu berikan>>>!

bugurusiti - July 18, 2013

Sama-sama

3. joyo jenggirat - August 29, 2013

Semoga bermanfaat bagi para pendidik yang lain jeng

bugurusiti - August 29, 2013

Amiin…

4. asni - January 19, 2014

terima kasih yah

5. dwi fany abilah - August 21, 2014

saya suka dgn pelajaran ini

6. Taik pepek - August 31, 2014

Taik pepek

7. izzah - September 11, 2014

makasih buguru saya anak kls enam jdi saya butuh sekali pelajaran ini sekali lagi makasih buguru


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: